Sejarah Lengkap Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap Portugis dan VOC

Admin 21:51
Salah satu kisah perlawanan hebat melawan imperialisme dan kolonialisme barat lahir di Maluku. Abad ke-14, 15 dan 18 akan selalu diingat sebagai sejarah hebat perlawanan rakyat maluku terhadap Portugis dan VOC.

Dan anda beruntung sudah sampai di blog ini karena akan mendengar kisahnya.



perlawanan rakyat maluku


Bagi saya, perlawanan Maluku ini adalah salah satu kisah terhebat di Indonesia. Disinilah tercipta persatuan Nusantara untuk melawan Barat. Kemenangan yang 100 persen melawan penjajah, dan darisini pula lahir pahlawan-pahlawanan seperti Tomas Matulessy dan Sultan Baabullah.

Nama terakhir tidaklah terkenal seperti nama pertama yang ada di lembaran 1000 rupiah anda. Tapi dialah sebetulnya yang membawa kisah yang begitu hebat dari Maluku, perjuangan yang begitu besar. Entah kenapa kisah ini tidak seterkenal Perang Diponegoro atau Majapahit.

Karena itu, saya berniat menghidupkan kembali sejarah ini. Supaya Indonesia kembali mengingat era keemasannya. Mengingat lagi era yang akan menjadi inspirasi generasi muda.

Perlawanan Melawan Portugis


Di Maluku-lah terjadi peristiwa sejarah yang sangat penting. Yang menandakan kebesaran Nusantara yang mampu mengusir penjajah 100 persen. Yang terjadi pada abad ke-15 terhadap Portugis. Awal mulanya adalah ekspedisi bangsa Portugis ke Maluku yang mendarat di kerajaan Ternate pada tahun 1513.

Latar Belakang


Awalnya, gerak-gerik bangsa Portugis di Maluku hanya sebatas kerja sama di bidang perdagangan terutama rempah-rempah. Namun, lambat laun Portugis malah melanggar kerja sama itu dengan melakukan monopoli dagang.

Hal tersebut membuat Sultan Ternate, Sultan Hairun, menyerukan perlawanan terhadap Portugis kepada seluruh Maluku, bahkan Jawa dan Irian. Hingga akhirnya meletuslah perang Ternate-Portugis yang pertama pada tahun 1559-1567. Sultan Hairun pun mengutus putra-putranya untuk menjadi panglima.

Jalannya Perlawanan dan Akhir Perlawanan


Kami-pun tidak mendapat banyak info mengenai jalannya perlawanan pada perang Ternate-Portugis yang pertama ini. Tapi di Ternate, sejak 1550 kadang-kadang terjadi pertempuran yang berkembang menjadi perang.

Dan selama perang inilah mencuat juga tokoh perlawanan muda bernama Pangeran Baab, selanjutnya Sultan Baabullah, putra dari Sultan Hairun yang begitu cakap sebagai panglima.

Di perang ini pula terjadi sebuah peristiwa yang mestinya selalu diingat. Dimana 3 kerajaan Islam terbesar kala itu (Aceh, Demak, Ternate) masing-masing dari Barat, Tengah, dan Timur Nusantara membentuk suatu front persatuan melawan Portugis yang terus bertahan sampai abad ke-15.

Disinilah, pasca era Majapahit tercipta lagi sebuah front persatuan Nusantara yang berandil besar dalam tindak-tanduk Barat selama seabad lamanya di bumi Nusantara.

Dan dengan front itu pula, perang dimenangkan Ternate. Wilayah Ambon direbut. Dan Portugis terpaksa memohon damai. Hal ini disambut dengan baik oleh Sultan Hairun. Portugis tetap diizinkan berdangan di Ternate dan bersaing dengan pedagang-pedagang lain secara bebas. Dan hak-hak istimewa mereka terkait monopoli dagang dicabut.

Perlawanan Kedua Dibawah Pimpinan Sultan Baabullah


*Gambar Sultan Baabullah tidak dapat saya temukan. Namun gambar dibawah ini sering dikatakan sebagai gambarnya, meski ada yang mengatakan sebagai gambar Sultan Mudaffar Syah II

perlawanan terhadap portugis


Namun rupanya, permohonan damai Portugis hanyalah kedok untuk meruntuhkan Ternate. Mereka masih menginginkan segala kekayaan rempah-rempah di Maluku. Namun kekuatan yang belum cukup membuat mereka mengulur waktu selama masa damai.

Dibalik layar, rupanya Portugis tengah mengatur rencana yang cerdik dan licik dengan sabar.

Terbukti, pada 1570 Portugis melakukan sebuah langkah penjebakan yang begitu licik. Beralasan untuk merayakan hubungan Ternate-Portugis yang makin membaik, Sultan Hairun diundang ke benteng Sau Paulo pada 25 Februari 1570 oleh gubernur Portugis Lopez de Mesquita.

Sultan Hairun yang sudah percaya pada Portugis pun datang tanpa pengawal. Tak disangka, sesampainya disana ia langsung dibunuh dan mati dengan mengenaskan. Kematian Sultan Hairun ini dipercaya akan menjadi kehilangan besar bagi rakyat Maluku atas pemimpin yang hebat.

Maka pecahlah sudah kemarahan rakyat Maluku.

Tapi tentu saja, dengan kematian Sultan Hairun akan ada posisi lowong pada kepemimpinan Maluku. Untuk menghimpun persatuan melawan Portugis, rakyat mesti memiliki pemimpin yang bisa mengatur rakyat.

Maka Dewan Kerajaan atas dukungan dari rakyat pun memilih Pangeran Baabullah, anak Sultan Hairun yang selanjutnya bergelar Sultan Baabullah Datu Syah, sebagai pemimpin.

Tak tanggung-tanggung, ia bersumpah akan berjuang untuk menegakkan panji-panji Islam di bumi Maluku, menjadikan Kesultanan Ternate sebagai kerajaan yang besar, dan melakukan balasan untuk mengusir Portugis dari wilayahnya.

Perang Jihad pun diumumkan diseluruh Nusantara Timur. Suku-suku yang berbeda akarnya dipersatukan. Kerjaaan-kerajaan di Indonesia Timur melupakan persaingan. Semata-mata demi persatuan dalam melawan Portugis.

Persatuan dengan Tidore diperkukuh dengan pernikahan antara Sultan Baabullah dengan adik dari Sultan Tidore. Panglima-panglima diangkat : Raja Jailolo Katarabumi, Gubernur Sula Kapita Kapalaya, Gubernur Ambon Kapita Kalakinka, dan Kapita Rubuhongi.

Semuanya bersatu dibawah pimpinan Sultan Baabullah. Dan membuat suatu persatuan yang begitu hebat. Dengan 2000 kora-kora dan 120000 prajurit, pasukan Jihad menyerang Portugis.

Sementara di pihak Portugis, keadaan justru sedang buruk. Mereka tidak mampu mendapat bala bantuan dari luar karena daerah kekuasaan mereka, Malaka, sedang dikepung oleh Kesultanan Aceh.

Dengan keadaan yang bertolak belakang ini, maka pasukan Jihad Sultan Baabullah mampu meraih keunggulan. Satu persatu benteng-benteng Portugis jatuh ke tangan Ternate. Hingga tinggal menyisakan satu benteng, yaitu Sau Paulo tempat kediaman gubernur Portugis Lopez de Mesquita.

Sebenarnya dia bisa saja langsung menguasai benteng tersebut dengan jalan kekerasan. Namun Sultan Baabullah tidak tega karena di benteng tersebut banyak terdapat rakyat Maluku yang menetap karena menikah dengan orang Portugis.

Tapi selain itu, Sultan Baabullah sama sekali tidak berhenti melakukan penyerangan. Segala fasilitas Sultan Hairun pada Portugis dicabut. Perang Soya-Soya (pembebasan negeri) dikobarkan.

Portugis digempur habis-habisan. Kekuasaannya makin menipis. Tahun 1571 pasukan dengan 30 juanga dan berkekuatan 3000 prajurit dibawah pimpinan Kapita Kalakinda berhasil menguasai Ambon. Pulau Buru pun berhasil direbut setelah 2 kali serangan. Meski ada sedikit halangan dari pasukan pribumi kristen.

Demikianlah sampai tahun 1575 seluruh kekuatan Portugis dan pendukungnya berhasil ditundukkan.

Namun benteng Sau Paulo masih dalam pengepungan sejak 1570. Selama lima tahun lamanya orang-orang disana menderita karena terputusnya hubungan dengan dunia luar. Sebuah balasan atas penghianatan mereka.

Namun pada 1575, Sultan Baabullah memberi ultimatum untuk meninggalkan Ternate dalam waktu 24 jam. Namun, mereka yang memiliki istri pribumi diperbolehkan tinggal asalkan menjadi kawula kerajaan. Akhirnya, tanggal 15 Juli 1575, Portugis pergi secara memalukan dari Ternate. Hebatnya, tak ada kekerasan dari pihak Ternate. Malah mereka diberi kesempatan untuk menetap di Ambon sampai 1576.

Selanjutnya, sebagian orang Portugis pergi ke Malaka dan sebagian lagi ke Timor. Sementara Ternate mengalami masa kejayaan bersama Sultan Baabullah dan tetap memelihara persatuan dan kerja sama dengan kerajaan Demak dan Aceh sebagai poros Nusantara untuk menolak kolonialisme Barat.

Demikianlah perlawanan rakyat Maluku terhadap Portugis yang berakhir dengan kemenangan besar. Hal ini membuktikan jika persatuan Nusantara akan mampu mengalahkan bangsa Barat. Dan juga sebagai teladan akan kebaikan hati para pemimpin yang tidak melakukan kekejaman pada musuh seberapapun kejamnya mereka sebelumnya.

Perlawanan Terhadap VOC (dan Belanda)


Setelah kemenangan besar melawan Portugis, bersama Sultan Baabullah Ternate pada khususnya dan Maluku pada umumnya mengalami masa keemasan. Tapi setelah wafatnya pada 1583 yang meninggalkan luka mendalam, tak ada lagi pemimpin sekaliber dia yang memimpin Maluku.

Krisis pemimpin ini membuat Maluku pelan-pelan mengalami kemunduran. Maka tak heran jika kemudian datang lagi musuh lama, yaitu Portugis yang masih saja mencoba menguasai bumi Maluku.

Penyerangan Portugis-Spanyol dan Bantuan Menyesatkan Belanda


Seperti yang telah dijelaskan diatas, Portugis bersama Spanyol mencoba menguasai Maluku. Dan segala upaya mereka tak mampu dibendung oleh Kesultanan Ternate dan Maluku disekitarnya.

Bahkan, Sultan Ternate dibuang. Hal ini, membuat Ternate mau-tidak-mau harus meminta bantuan dari luar. Dan Belanda dengan armada-nya pun bersedia menolong, tapi dengan bayaran mahal yang akan disesali.

Ya, armada Portugis berhasil ditumpas. Tapi disinilah awal monopoli Belanda (VOC) dimulai. Hal itu diawali dengan perjanjian kontrak monopoli dagang VOC atas imbalan bantuan mereka pada 1607.

Setelah itu, lebih dari 300 tahun lamanya bangsa Belanda menguasai tanah Maluku. Semakin lama pengaruh Belanda makin kuat. Lewat perintah sultan Belanda/VOC dapat dengan leluasa membuat peraturan yang merugikan rakyat.

Pemberontakan-Pemberontakan Terhadap Belanda (VOC)


Hal itupun menimbul kekecewaan rakyat. Dan akhirnya terjadilah pemberontakan-pemberontakan sepanjang abad ke-15. Seperti pemberontakan Salahakan Hulu pada 1635 dan Sultan Sibori pada 1675. Tapi semua hal itu dapat ditumpas dan puncaknya, pada 1683 Sultan Sibori dengan terpaksa mengakhiri masa Kesultanan Ternate sebagai negara berdaulat, diganti dengan kerajaan independen Belanda.

Segala hal ini pun Maluku tak lagi berkutik. Memang ada pemberontakan, tapi dengan pengawasan Belanda hanya bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi dengan dampak yang tidak besar. Sampai Indonesia merdeka.

Perlawanan Rakyat Dibawah Pimpinan Kapitan Pattimura

pahlawan maluku
Kapitan Pattimura alias Tomas Matulessy

 

Tapi perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC (Belanda) yang selalu diingat adalah perjuangan Kapitan Pattimura (Thomas Matulessi) yang sempat menyusahkan Belanda.

Pattimura berhasil menjadi pemimpin rakyat Maluku untuk melawan Belanda. Faktor perlawanan ini adalah kesengsaraan rakyat sudah begitu memuncak karena kebijakan-kebijakan Belanda : pemberlakuan kerja wajib, pemberlakuan uang kertas, dan pengangkatan pemuda Maluku menjadi serdadu Belanda.

Pattimura pun mengajukan daftar keluhan rakyat atas kebijakan semena-mena tersebut. Namun tidak ditanggapi oleh pemerintah Belanda.

Akhirnya, pemberontakan dilakukan. Dengan mempersatukan rakyat, pasukan Pattimura mampu unggul. Ditandai dengan terbunuhnya Residen Belanda, Van Der Bergh. Tapi perlahan-lahan, kekuatan Belanda mulai pulih seiring bantuan dari Batavia.

Pasukan Pattimura dipaksa untuk bergerilya dan akhirnya harus menyerah dan dihukum gantung di Ambon. Di depan benteng New Victoria pada tanggal 16 Desember 1817.

Disini juga lahir pahlawan-pahlawan lain seperti Anthonie Rhebok, Thomas Pattiweal, Lucas Latumahina, dan Johanes Matulessi.

Untuk anda yang mau lebih tahu tentang Thomas Matulessy (gambar diatas) bisa lihat di Wikipedia

Video Tentang Perlawanan Rakyat Maluku pada Masa VOC




...

Nah, sekian artikel saya mengenai sejarah perlawanan rakyat maluku terhadap Portugis dan VOC. Saya harap dapat membantu anda dalam melihat perjuangan-perjuangan rakyat Indonesia (dalam hal ini : Maluku).

Semoga kita bisa mencontoh perjuangan para pahlawan ini. Dan apabila anda punya saran, kritik, atau apa saja, silahkan berkomentar. Karena saya butuh komentar anda.

Jangan lupa juga untuk like, tweet, dan +1 artikel saya melalui tombol dibawah. Thanks!









First

6 comments